Tim ESDM Siaga Bencana untuk gempa Sumatera Barat berkonsentrasi melakukan evakuasi korban di Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman. Mulai Senin (5/10), jumlah tim ditambah menjadi 15. Dua tim dari Tim Siaga Bencana ESDM, antara lain Tim PT Kideco, paling awal mencapai lokasi bencana, yakni Kamis (2/10) pekan lalu.
Menurut Koordinator Lapangan Tim Siaga Bencana ESDM Alex H Widyatmaji, berdasarkan informasi di lokasi bukit yang longsor di Desa Lubuk Laweh, Kecamatan Koto Tujuh, diperkirakan ada 250 korban tertimbun. Sedangkan di lokasi bencana Desa Enam Lingkung, Kecamatan Duakali Sebelas, diperkirakan tertimbun 120 korban. "Di samping itu, terdapat puluhan korban tertimbun tanah yang baru mengadakan pesta perkawinan," ujarnya kemarin (6/10).
Menurut Alex, konsentrasi evakuasi saat ini dilakukan di daerah Padang Pariaman dan Pariaman. Mengingat kondisi jembatan yang terbatas menanggung beban, tim baru berhasil membawa satu wheel loader ke lokasi bencana. Sedangkan eskavator sudah didatangkan Tim PT Semen Padang Peduli.
Sedangkan Tim Badan Geologi Departemen ESDM akan membantu perbaikan jaringan distribusi air bersih. Akses untuk mendapatkan air bersih sangat sulit pascagempa. Akibat rusaknya instalasi air bersih (ledeng), masyarakat memanfaatkan aliran sungai serta menampung air hujan yang turun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ketua Tim Ediwan mengatakan, pihaknya akan melakukan pemboran untuk dapat memudahan masyarakat untuk mendapatkan akses air bersih. “Tim Badan Geologi selain membuat pemboran sedikitnya sepuluh titik, juga akan membangun penampungan air sehingga memudahkan masyarakat mendapatkan air bersih," ujar Ediwan.
Untuk kelancaran kegiatan, tim dilengkapi dua generator listrik dan perlengkapan pemboran. Dengan begitu, pelaksanaan pemboran untuk mendapatkan suplai air bersih tidak mendapatkan kendala di lapangan.
Sementara itu, kondisi listrik di Padang berangsur membaik. Hingga kemarin sebanyak 29 feeder (saluran) telah berfungsi normal. Sekitar 88 persen dari 425 gardu distribusi masih dapat dioperasikan. "Itu bertambah dibanding sehari sebelumnya, di mana gardu distribusi yang menyala 85,18 persen," ujar Dirut PT PLN Fahmi Mochtar. Kondisi sistem kelistrikan di Kota Pariaman telah berfungsi 100 persen, sedangkan Kabupaten Pariaman 60 persen. Kota Pariaman dan sekitarnya dipasok 5 feeder dengan 288 gardu distribusi.
Untuk mengatasi kondisi darurat, PLN mengirim 32 unit genset, termasuk yang disumbangkan mitra PLN. Beberapa genset dilengkapi penerangan yang dapat dipakai dalam proses evakuasi korban pada malam hari. Untuk mengganti trafo distribusi yang rusak, PLN mengirim 145 trafo distribusi. "Ditargetkan dalam waktu 3-4 hari semua gardu distribusi dapat kembali berfungsi," jelasnya. Penyaluran kembali listrik ke rumah dan gedung harus memerhatikan kondisi instalasi rumah atau gedung demi keselamatan warga dan petugas di lapangan.
Jumlah tenaga teknis PLN yang ada di Padang dan Pariaman saat ini 562 orang, terdiri atas 98 dari PLN setempat, ditambah 464 orang bantuan dari seluruh unit PLN. Jumlah itu akan bertambah sesuai kebutuhan. "PLN berkomitmen secepatnya memulihkan kondisi kelistrikan pascagempa," jelasnya.
Tim Medis Sisir Daerah Pinggiran
Masih banyak korban gempa yang diperkirakan belum tertangani secara medis dengan baik. Hal itu terutama terjadi pada korban yang berada di daerah pinggiran Padang maupun desa terpencil seperti di Kabupaten Padang Pariaman.
Karena itu, mulai kemarin (6/10) banyak tim dokter terjun ke Padang Pariaman untuk membantu para korban. Sebisa mungkin mereka juga dirujuk di beberapa rumah sakit di Padang, seperti RS Dr M Djamil, RSD Padang, dan rumah sakit terapung KRI Dr Soeharso-990.
Di RS Dr M Djamil, para korban gempa yang sebelumnya ditempatkan di tenda sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Sebagian besar bangunan rumah sakit memang rusak terkena gempa. Tetapi pasien merasa lebih nyaman dirawat di tenda dibandingkan di ruangan. Karena banyaknya pasien yang dirawat di rumah sakit itu, tidak semua terurus dengan baik.
Dina (25), salah seorang korban gempa di Lubuk Alung, Padang Pariaman, menuturkan bahwa sejak dirujuk ke rumah sakit, Rabu sore lalu (30/9), dirinya baru dapat pertolongan Kamis malam (1/10). Dina menderita luka cukup parah pada kaki kiri. "Sehari semalam kaki saya hanya diganjal dengan kayu agar tidak bengkok. Kamis sore, lukanya baru dibersihkan dan kemudian dijahit," tuturnya.
Mulanya Dina merasa jengkel. Dia juga khawatir luka kaki kirinya yang tidak segera dirawat itu bisa terinfeksi. Namun saat mencermati begitu banyaknya pasien yang harus ditangani dan dirawat tim medis, Dina akhirnya bisa memaklumi. "Setelah kaki saya dijahit, perawat selalu memerhatikan perkembangan lukanya. Dokter juga beberapa kali menjenguk," tuturnya.
Dina tidak khawatir dengan kondisi dirinya. Dia lebih mencemaskan kondisi para korban gempa di kampung halamannya, sebab masih banyak korban yang tidak tertangani dengan baik di Lubuk Alung. Tetapi ada kabar terbaru yang dia dengar dari suaminya, bahwa relawan dari Rusia sudah datang ke desanya. "Saya amat berharap sanak keluarga di sana juga mendapat pertolongan," kata Dina.
Hal senada disampaikan Joni Anwar (28) yang menunggui kakaknya, Novriani, di RS Dr M Djamil. Menurut Joni, awal kali pertama kakaknya dirujuk ke rumah sakit, tidak satu pun tim medis yang segera menangani. Padahal, kakaknya cedera pinggang yang cukup parah. Novriani terkena reruntuhan bangunan rumahnya yang berlokasi di Jalan Khatib Sulaiman, Padang.
Baru di hari kedua, tim dokter melakukan rontgen pada pinggang Novriani. Menurut Joni, begitu para korban gempa dipindah ke ruang bedah, penanganan yang dilakukan rumah sakit menjadi lebih intensif. "Pelayanannya makin baik. Gratis lagi," ujarnya.
Belasan kilometer dari pusat Kota Padang atau di daerah pinggiran selatan kota, masih banyak korban yang memilih untuk tidak berobat ke rumah sakit. Mereka beralasan tidak ada sarana transportasi yang memadai seperti mobil untuk mengangkut korban.
Sebagian besar korban tak menderita luka berat. Namun mereka tetap tidak terurus. "Ketika gempa terjadi, saya sempat pingsan karena tertimpa kayu yang menghamtam kepala," cerita Anang Setiawan. Pemuda berusia 18 tahun itu memilih tetap di rumah dan menggelar tenda. Dia beralasan banyak sanak keluarganya yang lebih membutuhkan pertolongan.
Anang menuturkan, karena dia dan tetangganya kerap tidur di luar rumah, saat ini banyak yang kena flu dan diare. "Mau ke rumah sakit atau puskesmas, semua masih penuh," ujarnya. Mereka juga tidak berpikir untuk mencari pertolongan di posko-posko kesehatan. "Posko lebih banyak di tengah kota. Di sini enggak ada," tambahnya.
Sementara itu, Prof Eddy dari RSU dr Soetomo mengatakan, dia bersama timnya akan menyisir Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman untuk mencari korban yang belum tertangani dengan baik. "Beberapa hari ini kami akan ke Pariaman dan menolong korban yang belum tersentuh," ujarnya. Upaya jemput bola itu amat penting dilakukan.
Menurut dia, pasien yang dirawat di rumah sakit sudah tertangani dengan baik. Stok obat yang ada di rumah sakit juga cukup. "Kami juga membawa stok obat sendiri," katanya. Untuk stok obat, lanjut dia, pemerintah sengaja tidak menyuplai berlebihan. Hal itu didasarkan pada pengalaman di Aceh. Ketika itu, banyak obat terbuang percuma.
Kepala Krisis Penanggulangan Bencana Depkes Rustam S Pakaya menambahkan, stok obat dijamin aman. Depkes telah mendistribusikan 5 ton obat ke berbagai daerah. "Soal obat, yang tahu kebutuhannya adalah dokter. Kami jamin aman," ujarnya.
Gubernur Tegaskan Pencarian Korban Dilanjutkan
Gubernur Sumatera Barat Gamawan Fauzi memastikan evakuasi terhadap korban yang masih tertimbun reruntuhan tetap akan dilanjutkan. Bahkan, pemkot Padang tidak akan membatasi waktu evakuasi. “Jadi tidak benar jika ada yang mengatakan bahwa pencarian korban dihentikan. Saya mendapat banyak pertanyaan itu, jadi saya tegaskan tidak benar,” tegasnya ketika jumpa pers di rumah dinas pukul 20.00 tadi malam.
Dia mengatakan, Presiden telah memberi deadline 15 hari untuk membersihkan puing bangunan yang masih berserakan. Dengan demikian, kata dia, tidak akan ada penghentian evakuasi. Kecuali untuk kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi yang memiliki kedalaman tanah hingga 10 meter. “Tadi (kemarin, red), kami temukan 18 mayat dalam keadaan hancur,” ujarnya. Dengan demikian, kecil kemungkinan menemukan korban masih hidup di daerah tersebut dengan selamat. Karena itu, besar kemungkinan evakuasi di dua daerah tersebut bakal dihentikan.
Terkait fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar, Gubernur tidak serta merta mengiyakan. Hal itu bergantung keihklasan dari keluarga korban untuk menerima fatwa itu atau tidak. “Karena kita tahu masih banyak keluarga korban yang ingin mencari mereka yang meninggal,” ujarnya.
Gamawan menyebut, hingga tadi malam pukul 20.00, jumlah korban yang meninggal akibat gempa berkekuatan 7,6 skala Richter mencapai 704 orang. Korban hilang diperkirakan 295 orang, korban luka ringan 1.334 orang, dan luka berat 746 orang. Sementara korban yang mengungsi sekitar 410 orang.
Gubernur juga menyikapi isu rasial yang berembus dari Pondok Pecinan. Menurutnya, isu diskriminasi itu sama sekali tidak benar. Sejak hari kedua pascagempa terjadi, Gubernur langsung meninjau lokasi tersebut. “Bahkan pemerintah menyewa alat berat mereka,” ujarnya.
Tak hanya itu, Wapres Jusuf Kalla bersama istrinya juga mengunjungi kawasan tersebut. “Kenapa masih ada yang menyebut rasial. Saya pikir ada yang sengaja menghembuskan isu itu,” ujarnya. Gubernur amat menyayangkan adanya isu tersebut. Seharusnya, kata dia, dalam situasi seperti ini semua pihak bersatu untuk bekerja sama.
Gubernur juga curhat ihwal banyaknya pihak yang menuding penanganan bencana di Sumbar lamban. Termasuk penyaluran bantuan ke berbagai daerah. Contohnya, pendistribusian bantuan di Kecamatan Tandikek, Padang Pariaman. “Ada yang bilang di sana enggak ada beras dan mi. Padahal, tadi siang (kemarin, red) saya dan Pak Boediono meninjau lokasi. Di sana, banyak bantuan menumpuk,” ujarnya.
Pihaknya juga menegaskan, tidak ada penumpukan bantuan di bandara. Jika ada, hal itu disebabkan masih dalam pendataan. “Karena kami kan tidak bisa serta merta langsung mendistribusikan bantuan tersebut,” tandasnya. Seharusnya, kata dia, seluruh pihak bahu-membahu saling bekerja sama. Dia mengatakan, tim SAR, relawan dalam dan luar negeri, Satkorlak, maupun TNI telah berupaya semaksimal mungkin bekerja. “Kami hanya membutuhkan dukungan moril. Jangan terus dicari sisi gelapnya saja,” ujarnya
08 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar